20 July 2020

Salah satu faktor penting dalam berbisnis adalah mempertahankan brand’s voice dan mempertajam tone dalam branding. Bagaimana caranya? Simak artikel berikut.

Seorang pengusaha bermaksud membuka bisnis yang baru. Persiapan sudah dilakukan secara matang, modal pun diperkirakan sesuai. Satu-satunya kendala adalah mempertahankan brand’s voice sekaligus mempertajam tone ketika bisnis dimulai.

Baca Juga: Hubungan Brand Image Terhadap Loyalitas Merek

Padahal keduanya amat sangat penting untuk mengkomunikasikan bisnis dengan pelanggan. Tanpa nama brand yang populer, sulit bagi bisnis dengan ide yang sama untuk bertahan dalam waktu lama. Apalagi jika bisnis yang Anda geluti tidak punya keunikan yang membedakannya dengan bisnis orang lain.

Apa Itu Brand’s Voice?

Mereka yang berpengalaman dalam dunia bisnis dan marketing memahami istilah ini dengan baik. Tidak ada bisnis yang dapat berkembang dan sukses jika tidak diimbangi dengan identitas brand yang jelas.

Bila dideskripsikan secara sederhana, brand’s voice merupakan ciri khas yang identik dengan sebuah brand bisnis. Tanpa citra yang positif dan baik, akan sulit bagi bisnis untuk menarik atensi atau simpati dari pelanggan. Ibaratnya, siapa yang mau membeli produk dari brand tersebut jika mereka bermasalah dengan hukum?

Secara tidak langsung kita bisa menarik kesimpulan jika suara brand juga berhubungan dengan attitude bukan sekedar kreativitas mengolah kata-kata. Brand bisnis bisa dianggap bagus dan profesional disaat bersikap konsisten. Mereka tidak semborono saat mengatasi masalah.

Apai Itu Tone dalam Branding?

Proses pembentukan suara brand bukan hal yang mudah, butuh proses yang panjang termasuk mengaplikasikan empat elemennya. Salah satu elemen paling penting adalah tone.

Sama seperti nada pada musik, tone dalam branding juga memiliki berbagai sifat yang unik. Tone bisa dibuat halus, hati-hati namun tetap mempersuasi pelanggan. Di sisi lain, tone dalam branding juga bisa dibuat lebih agresif, intens dan jujur.

Penggunaan tone yang tepat dan sesuai dengan citra brand akan menarik perhatian target marketing. Mereka tidak merasa keberatan untuk menyimak konten brand Anda dan mencari tahu bagaimana produknya secara terperinci.

Dalam perkembangannya, tone dalam branding bisa berubah-ubah menyesuaikan dengan kebutuhan. Sementara, suara brand bersifat konsisten tidak bisa diubah dengan mudah karena akan membuat blur dan menciptakan persepsi baru dari pelanggan setia atau pelanggan baru.

Cara Jitu Pertahankan Brand’s Voice dan Mempertajam Tone

Sudah paham mengenai dua perbedaan istilah di atas? Jika jawabannya ya. Silakan simak tips mudah mempertahankan suara brand bisnis termasuk mempertajam tone-nya berikut ini.

1. Berikan Informasi yang Bermanfaat dan Relevan

Pernahkah Anda melihat sebuah brand melakukan branding di sosial media? Apakah Anda mengikuti brand tersebut? Ada banyak sekali brand yang melakukan branding melalui media sosial karena dianggap lebih mudah dan murah. Cara ini juga efektif untuk menjangkau banyak orang tidak terlepas di satu titik saja.

Dari sekian banyak brand yang eksis di media sosial, tidak semua brand mampu menarik atensi pengguna media sosial. Mengapa? Apa alasan yang melatarbelakanginya? Kemungkinan besar karena mereka tidak bisa menyajikan informasi yang bermanfaat dan relevan dengan branding bisnis mereka.

Sehingga pengguna tidak merasa butuh atau ingin untuk mengetahui brand tersebut. Tidak sedikit pula pengguna yang sebelumnya follow brand akan berubah unflollow karena merasa informasi yang diberikan oleh brand tidak relevan atau berkembang.

2. Gali Lebih Dalam Tentang Target Marketing Anda

Mempertajam tone dalam branding pada dasarnya bukan hal yang sulit. Hal utama yang harus Anda lakukan adalah menggali informasi tentang target marketing. Ketika semua informasi diterima dan diolah otomatis Anda bisa menyesuaikan tone branding dengan tepat.

Cari tahu tentang sifat dan attitude pelanggan Anda. Apakah pelanggan Anda mayoritas wanita, anak-anak atau lansia? Sesuikan tone bahasa yang tepat untuk berbicara dengan mereka. Setelah mengetahui attitude-nya, cari tahu pula pola pikir mereka dan apa yang mereka butuhkan.

Ketiga konteks yang mengarah pada target marketing ini akan mempengaruhi penggunaan tone dalam branding bisnis Anda. Apakah menjadi lebih tajam? Atau justru menjadi semakin tumpul.

Branding dalam bisnis ternyata memiliki hubungan koneksi yang erat dengan brand’s voice juga brand’s tone. Agar keduanya bisa bergerak sejalan, pahami terlebih dahulu kedua istilah tersebut dan jangan lupa terapkan tips di atas.

Baca Juga: Cara Branding Produk Di Sosial Media

Ingin mengetahui lebih banyak informasi seputar dunia branding? Kunjungi blog Dreambox Branding Agency di sini.