27 December 2019

Dapatkah proses branding memberi dampak yang besar pada harga produk?

Jawabannya, jelas sangat bisa. Apabila branding sudah demikian kuat, mau berapa pun harganya, asal sesuai dengan ukuran “isi dompet” target konsumen, maka bisa diterima dengan mudah. Sebaliknya, saat pelaku usaha tidak menerapkan kegiatan branding, ia hanya akan jatuh-bangun pada persaingan harga yang acapkali berdarah-darah. Ukurannya kelebihan produk hanya berkutat pada kuantitas dan harga yang lebih murah.

Baca Juga: Fakta Mengenai Rencana Pemasaran yang Harus Kamu Ketahui

Mengapa Branding Mempengaruhi Harga Produk?

Bagi orang yang tidak mengenal Syahrini, pasti akan terheran-heran ketika produk mukena yang ia jual dibanderol dengan harga 3,5 juta Rupiah. Namun, bagi penggemar fanatik Syahrini, harga tersebut terasa sangat wajar, mengingat si empunya adalah orang terkenal. Kira-kira, begitulah efek branding yang kuat dan akhirnya bisa mempengaruhi harga.

1. Nama Brand Sudah Terlalu Melekat pada Benak Konsumen

Semacam “cuci otak”, tapi dengan cara-cara yang diinginkan oleh konsumen. Itulah yang diterapkan dalam proses branding. Pikiran manusia itu sebetulnya mudah dipengaruhi kok. Semakin sering ia mengingat sesuatu, maka secara otomatis timbul perasaan “wajar” yang akhirnya berujung pada rasa “suka”.

Pada mulanya, seseorang bisa saja mengatakan tidak suka pada sebuah lagu. Tapi, setelah ia mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang, muncul pula perasaan suka. Misalnya pada bagian reff atau pembukaan. Untuk pendengar lagu yang sensitif terhadap ketukan nada, bahkan ia mulai suka dengan komposisi nada pada lagu tersebut.

Dalam proses branding, cara-cara yang diterapkan kurang lebih sama. Tujuannya untuk menciptakan perasaan “cinta, nyaman, dan ketergantungan” ketika konsumen menggunakan produk. Kalau sudah cinta, maka pengorbanan apa pun siap ia lakukan. Meskipun harus menebusnya dengan harga mahal.

2. Memiliki Ikatan Emosional yang Tinggi dengan Konsumen

Suatu merek dengan branding yang kuat selalu memberikan nilai lebih pada konsumen. Terutama yang sudah jadi pelanggan setia. Nilai lebih itu bisa dalam bentuk komunitas, pelatihan, peluncuran jingle, dan lain-lain. Dengan adanya nilai lebih itu, suatu produk jadi tampak begitu berbeda dengan milik kompetitor. Padahal dari segi fungsi kurang lebih sama. Akhirnya muncul persepsi, bahwa produk tersebut lebih unggul dibanding lainnya.

Keunggulan yang diciptakan lewat “ikatan emosional” itu yang akhirnya membuat harga produk bisa bersaing di pasaran. Apalagi jika produk tersebut sudah terbukti menolong banyak orang terkait masalah pekerjaan, keamanan, dan kesehatan. Kebanyakan, para konsumen rela membayar lebih karena sudah terikat secara emosional. Misalnya dengan membeli suatu produk, ia jadi merasa lebih percaya diri. Lalu muncul perasaan bangga ketika menggunakan produk tersebut.

3. Eksistensi dari Perintis Usaha

Status dari pendiri usaha pun turut mempengaruhi harga produk di pasaran. Misalnya ayam geprek yang digagas oleh Ruben Onsu dengan nama i Am Geprek Bensu.Dari segi harga, memang masih cukup terjangkau. Tapi, harga yang ditetapkan pada produk garapan Ruben Onsu ini lebih tinggi ketimbang ayam geprek dijual “orang yang tidak terkenal”.

Harga per porsi ayam geprek Bensu bisa mencapai 50 ribu hingga 75 ribu Rupiah. Kalau yang tidak ada mereknya alias ayam geprek biasa, hanya dijual di rentang harga 10 ribu Rupiah hingga 15 ribu Rupiah. Jelas sekali perbedaannya, kan?Ketika makan ayam geprek Bensu, si konsumen langsung teringat sosok yang kerapkali jadi pembawa acara di televisi swasta. Kemudian ia nyeletuk, “Oh, Ruben Onsu yang itu, ya? Yang sering nongol di TV.”

Kesimpulannya, branding yang kuat dan lemah, sama-sama bisa mempengaruhi harga suatu produk. Dengan menerapkan berbagai macam strategi branding, pada saat yang sama, produk tersebut sebetulnya tengah berusaha keluar dari persaingan harga di level bawah.

Baca Juga: Baca Juga: Efektifitas Proses Pemasaran yang Mengikuti Tren

Ingin mengetahui lebih banyak informasi seputar dunia branding? Kunjungi website Dreambox Branding Consultant di sini.